Minggu, 18 Desember 2011

DAMPAK KEGIATAN MANUSIA TERHADAP EKOSISTEM AIR MENGALIR DI DAS BRANTAS HULU TENGAH SENGKALING KABUPATEN MALANG

DAMPAK KEGIATAN MANUSIA TERHADAP EKOSISTEM AIR MENGALIR DI DAS BRANTAS HULU TENGAH SENGKALING KABUPATEN MALANG

Oleh:
Samsudin
Mahasiswa Magister Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Pembangunan 
Universitas Brawijaya

Kegiatan manusia baik disengaja maupun tidak telah menimbulkan dampak terhadap ekosistem air mengalir selanjutnya disebut ekosistem. Kegiatan ekonomi dan sosial yang dilakukan oleh manusia di DAS Brantas hulu tengah di daerah Sengkaling adalah sebagai berikut:
NO
KEGIATAN
POTENSI DAMPAK
1
Pembuangan limbah cair (sewage) rumah tangga
Tercemarnya air dan sakit dan matinya biota.
Penurunan kandungan oksigen terlarut dalam air, bahkan dapat terjadi keadaan anoksik dalam air sehingga bahan organic yang terdapat dalam sampah cair mengalami dekomposisi anaerobic yang antara lain menghasilkan hydrogen sulfide (H2S) dan aminia (NH3) yang keduanya merupakan racun bagi organism hewani dalam air.
Bau H2S seperti telur busuk yang dapat dijadikan indikasi berlangsungnya dekomposisi anaerobik.

2
Penebangan tegakan di sempadan(randu)
Rusaknya sempadan berakibat sedimentasi yang mempengaruhi aliran air yang sangat berpengaruh pada ekosistem

3
Buangan dari sisa  irigasi sawah
banyak mengandung pupuk buatan dan    peptisida, akan menyebabkan matinya organisme pada ekosistem sungai mengalir.
4
Konversi sempadan jadi pemukiman
Mengancam regenerasi stok-stok ikan dan udang diperairan air mengalir ini, karena memerlukan nursery ground  larva dan atau stadium muda ikan dan udang.
Pencemaran air oleh bahan-bahan pencemar yang sebelumnya dapat diikat oleh substrat air mengalir.
Pendangkalan sungai karena endapan sedimen yang sebelum dikonversi mengendap di tegakan sempadan.
Erosi garis sempadan sungai yang sebelumnya ditumbuhi tegakan.
                         
5
Pembuangan sampah padat.
Perembesan bahan-bahan pencemar dalam sampah padat yang kemudian larut dalam air ke perairan di sekitar sampah.
Sampah yang bertumpuk di dalam aliran sungai akan menyebabkan kerusakan ekosistem karena salah satu dari anggota rantai makanan ada yang mati. Banyak kematian berarti kadar amoniak dalam air akan bertambah. Kadar amoniak yang terlalu besar dalam air akan semakin mengganggu kehidupan organisme lain (E. P. Odum, 1971) .
6
Penambangan pasir dan batu.
1)         Pengendapan sedimen yang berlebihan dapat mengakibatkan aliran air menjadi lambat yang berakibat pada perubahan organisme, yang akhirnya akan merubah ekosistem dari air mengalir menjadi ekosistem air menggenang.
2)         Pengaruh penambangan pasir dan batu pada stasiun 1 berakibat pada hilangnya bentos jenis zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang (Kendeigh, 1980; Odum 1993; Rosenberg dan Resh, 1993). 
3)         Berdasarkan hasil pengamatan, kelimpahan bentos terjadi pada stasiun ke dua. Hal ini disebabkan oleh substrat batu yang terdapat pada stasiun ke dua bersih dari penambangan pasir dan batu.

7
Pendirian rumah tinggal sementara (gubuk)
1)   Merusak tegakan yang menyangga kehidupan organisme, sehingga merusak ekosistem.
2)   Merusak sempadan sungai yang berakibat pada aliran air permukaan tidak terkendali, banjir.
3)   Menyebabkan garis sempadan rusak yang mengakibatkan sedimen sungai dan amat berpengaruh pada warna perairan dan kecerahan air. Karena dua factor ini penting untuk kelimpahan oksigen pada fotosintesis tumbuhan air.
4)    Sedimentasi yang ditimbulkan mempengaruhi kedalaman sungai karena zona kedalam mempengaruhi keberagaman ekosistem semakin dalam perairan tersebut maka intensitas cahaya matahari yang masuk semakin berkurang. Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman.
5)   Sungai yang terpelihara member nuansa keindahan, namun yang kita saksikan di stasiun ke-1 menunjukkan kekumuhan bantaran sungai, bila hal ini tidak dicegah maka akan berkembang menjadi kawasan akan memberikan tekanan hebat pada lingkungan.
                                               

Dari penyajian pada tabel 1 di atas dapat digolongkan dalam tipe-tipe sosial-ekonomi masyarakat sekitar DAS ini, sebagai berikut:

1)     Berpenghasilan dari DAS Brantas di Sengkaling.
Di stasiun I di mana aliran sungai Brantas meskipun di kawasan hulu, namun tingkat derasnya tidak kuat malah cenderung lemah hal ini disebabkan oleh saat penelitian ini dilakukan bulan Oktober 2011 saat musim kemarau tidak sedikit sumber air yang kering dan konversi lahan dihulu tidak terkendali hal ini semakin memperparah keadaan debit air di DAS yang menjadi tempat pengamatan. Namun volume air masih cukup untuk mengairi sawah dan menghidupi organism di badan dan sekitar sungai. Begitu juga beberapa orang yang disensus oleh penulis ada enam orang yaitu Sukri (55 th) dan Agus (38 th) dkk., yang hidup dari hasil menambang pasir. Penghasilan perminggu saat ini antara Rp 150.000 s/d 200.000., dari berjualan pasir yang satu pick-upnya (3,5m3) Rp 50.000,- dan batu yang bila telah terkumpul dibeli oleh tukang selep batu untuk dijadikan koral.

Pak Sukri Penambang Pasir yang bertahan hingga saat ini
Sawah ladang Pak Sukri dan teman-temannya adalah DAS Brantas di daerah Sengkaling jika nambang pasir itu dilarang, mereka ya bisa jadi pekerja atau buruh suruan tapi pendapatnya tidak menentu, tapi jika ia menambang pasir bisa diharapkan pendapatannya tiap minggu.
Meski debit pasir tidak banyak saat ini, mereka tetap rajin menambang demi rupiah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bila musim hujan dan volume air besar maka dengan alat bantu ban mereka menggaruk pasir di dasar sungai dengan cangkul dan membawa ketepi untuk dikumpulkan ditepi sungai.

2)     Taat Asas
Meski tampaknya tidak ada yang mengingatkan para pekerja masih mematuhi larangan untuk tidak mengambil batu besar-besar yang di sungai. Larangan tersebut disampaikan oleh petugas dari Dinas Pengairan.

3)     Ceplik
Masih ada aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh penambang pasir yaitu memecah batu dari ukuran besar menjadi kecil-kecil dengan diameter 2-3 cm yang disebut koral yang dipergunakan untuk bahan pengecoran bangunan.
Kegiatan ini disebut ceplik. Palu dan penjepit adalah alat utamanya, batu kali yang berdiameter 15-30cm dipecah menjadi kecil-kecil yang disebut koral. Koral dijual dengan harga Rp 50.000 tiap meter kubiknya. Namun penjualan koral ini tidak menentu karena jumlah batu yang bisa diambil dari sungai juga tidak banyak.

PERMASALAHAN
Penambangan pasir sebagaimana kegiatan penambangan-penambangan yang lain selalu menekan lingkungan dan memberi dampak yang merusak pada alam, manusia, hewan, tumbuhan, dan sumberdaya yang lain.
Rusaknya sempadan sungai berakibat pada erosi dan tangah longsor yang membahayakan keselamatan umat manusia.
Limpasan air permukaan atau banjir adalah bentuk dampak negatif lain yang diakibatkan oleh penambangan pasir.
Rusaknya badan sungai yang diakibatkan kedalaman sebagai akibat pengerukan berakibat pada erosi sempadan sungai, hal ini berakibat pada peningkatan sedimen dan badan sungai makin melebar dan rawan banjir.
Kerusakah badan sungai oleh penambang mengakibatkan punahnya ekosistem-ekosistem di air mengalir khususnya bentos yang tinggal di dasar sungai yang dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan tersebut.

REKOMENDASI  
Jumlah penambang pasir yang enam orang tersebut dapat dibina dalam ekonomi produktif, yaitu dengan memberikan keterampilan yang dapat mengentas dari pekerjaannya sebagai penambang pasir.
Lembaga yang dapat memberdayakan Pak Sukri dan kawan-kawan adalah Kepala Desa, Dinas Pengairan, Camat, Pemeritah Kabupaten Malang, Dinas Tenaga Kerja, dll. Yang bila enam orang tersebut diupayakan pekerjaan maka kegiatan penambangan pasir bisa ditinggalkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar